Langsung ke konten utama

Postingan

3 Strategi Menjaga Kinerja dan Mental di Bawah Atasan yang Suka Menyalahkan

Ini adalah materi yang menarik karena umumnya para atasan/manager memiliki sikap seperti ini; blaming mindset. Tulisan ini menjadi pembelajaran juga untuk saya agar menjadi lebih baik.    Dalam dunia kerja, kita tidak bisa memilih atasan kita, jika beruntung, kita akan mendapatkan manager yang benar-benar mengerti apa yang dikerjakan dan mau meluangkan waktu untuk mengembangkan team serta menjadi kita selaku team/bawahan sebagai partner kerja. Jika kita mendapatkan manager yang bermasalah, maka kita perlu memiliki strategi dalam menghadapinya. Salah satunya jika kita terpaksa bekerja dengan atasan yang memiliki blaming mindset—yang selalu mencari kambing hitam saat ada masalah—bisa sangat melelahkan. Lingkungan kerja menjadi toxic, penuh kecemasan, dan kreativitas terhambat. Kita mungkin merasa tidak berdaya, tetapi ada cara strategis untuk menghadapinya tanpa mengorbankan posisi atau kesehatan mental Anda.   Ketika manager fokus pada menyalahkan individu daripada...
Postingan terbaru

2 Cara dari The Psychology of Habit agar Hidup menjadi lebih Hidup

Buku The psychology of habit yang ditulis oleh David. J. Lieberman berisi mengenai kebiasaan-kebiasaan negative yang dialami oleh manusia dan bagaimana memperbaikinya. Salah satu kebiasaan yang menarik perhatian saya adalah: jika sering memikirkan kematian. Menariknya, saya pernah memikirkan hal ini, tentunya, bukan karena saya ingin mati, tapi karena pikiran itu muncul tiba-tiba saja, saat sendirian, atau bahkan ketika sedang sibuk bekerja.   Di buku The Psychology of Habit karya David J. Lieberman, dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik pikiran itu. Ternyata, justru bukan tentang kematian, melainkan tentang bagaimana cara hidup dengan lebih sadar. Pikiran tentang kematian bukan ancaman , tapi sinyal. Menurut Lieberman, kebiasaan berpikir terbentuk dari bawah sadar kita. Pikiran yang berulang-ulang adalah bentuk komunikasi dari diri sendiri. Ketika otak terus memunculkan topik kematian, itu bukan tanda ingin menyerah, melainkan tanda bahwa ada bagian diri yang k...

Disiplin vs. Motivasi: Dua Pilar Penting untuk Mencapai Tujuan

Motivasi Kita semua pernah mengalaminya: semangat membara di awal, penuh dengan ide-ide brilian dan tekad yang kuat. Namun, beberapa minggu kemudian, semangat itu menguap, dan tujuan yang dulu terasa dekat kini seperti mimpi yang jauh. Di mana kesalahannya? Seringkali, kita terlalu mengandalkan motivasi dan melupakan kekuatan sejati di balik kesuksesan berkelanjutan: disiplin. Perlu diakui, motivasi itu naik-turun. Jika kita memiliki tujuan, perlu adanya konsistensi. Saat kita termotivasi, maka motivasi adalah emosi. Motivasi akan memberikan percikan awal, energi, dan alasan "mengapa" kita memulai. Yang sering terjadi, motivasi tergantung juga dengan "mood" kita. Jika kita lelah, motivasi akan pudar, karena kita lelah. Jika kita mengalami hari yang buruk, maka motivasi akan diragukan, atau bahkan kita tergoda untuk menunda mencapai tujuan.  Jika keberhasilan kita bergantung sepenuhnya pada perasaan termotivasi, kita akan gagal pada saat kita lelah. Apa yang perlu di...

5 Kebiasaan Pemimpin Hebat untuk Lebih Efektif

Kita sebagai calon pemimpin, atau sudah jadi pemimpin, baik di lingkungan keluarga, perumahan sekitar, atau organisasi (perusahaan, asosiasi, atau lainnya) pastinya ingin menjadi pemimpin yang efektif. Saat ini banyak sekali tulisan dan pelatihan yang mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang efektif. Salah satunya adalah tulisan berikut ini. Dari artikel yang saya baca, Rachel Wess menulis di Forbes; 5 Personal Habits of Highly Effective People yang menurut saya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rachel Wells mengidentifikasi 5 kebiasaan utama yang biasanya diterapkan pemimpin sangat efektif, sebagai fondasi agar kepemimpinan menjadi gaya hidup yang konsisten.   Kelima kebiasaan tersebut adalah: 1. Rutinitas Pagi (Morning Routines) Pemimpin efektif punya kebiasaan pagi yang terstruktur — misalnya olahraga ringan, meditasi, membaca, sarapan bergizi — agar mental dan fisik siap menghadapi hari kerja. Rutinitas ini memungkinkan mereka untuk tetap tenang dan respo...

5 Kebiasaan Sehari-hari untuk Kedamaian Hati

Kehidupan kita sehari-hari akan selalu ada tekanan. Tuntutan pekerjaan, aktivitas yang padat, dan arus informasi tanpa henti sering membuat pikiran lelah dan hati gelisah. Kita sibuk bekerja, bersosialisasi namun sering lupa merawat diri sendiri. Akibatnya, stres menumpuk, emosi mudah meledak, dan kualitas hidup menurun.  Kita memerlukan kedamaian hati dalam kehidupan sehari-hari dan ini adalah kebutuhan penting agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih sehat dan bahagia Kedamaian bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari kebiasaan kecil yang kita pilih setiap hari. Ada lima keputusan harian yang dapat membantu menciptakan ketenangan dalam hidup: 1. Berolahraga Setiap Hari Memulai hari dengan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, berlari ringan, atau latihan sederhana, membantu tubuh memproduksi hormon endorfin yang menurunkan stres. Olahraga teratur juga membuat tubuh lebih bugar dan pikiran lebih jernih, sehingga kita mampu menghadapi tantangan dengan ten...

2 Sikap Optimis atau Pesimis: Hasil Sama dengan Pengalaman Berbeda

Dalam menghadapi masalah setiap hari, akan ada dua sikap dari seseorang, optimis atau pesimis. Pastinya, dua sikap ini akan dimiliki oleh banyak orang dalam menghadapi berbagai hal setiap harinya. Keduanya kerap dikaitkan langsung dengan kesuksesan atau kegagalan. Banyak orang percaya bahwa optimis pasti sukses, sementara pesimis pasti gagal.  Ternyata, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Menurut buku Mind Power Skills, ditulis oleh James Borg yang baru saya baca, baik orang yang optimis maupun pesimis bisa saja mencapai hasil akhir yang sama. Seorang pesimis bisa berhasil menyelesaikan proyek, memenangkan kompetisi, atau meraih posisi penting dalam kariernya. Sebaliknya, seorang optimis pun bisa mengalami kegagalan, meski ia penuh semangat dan berpikir positif. James dalam bukunya, menuliskan "Menjadi orang yang pesimis atau pun optimis tidak akan mempengaruhi hasil. Namun orang yang optimis akan memiliki pengalaman hidup yang lebih baik" Saya setuju sekali, karena dalam s...

6 Hal Penting Listening Skills dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya kita akan selalu berinteraksi dengan banyak orang; pasangan, keluarga, teman-teman dan rekan kerja. Sekali waktu, saya pernah berdiskusi panjang lebar dan merasa lawan bicara hanya mengangguk tanpa benar-benar memahami maksud saya. Atau sebaliknya, saya pernah menyadari bahwa kadang saat teman sedang berbicara, pikiran saya justru melayang ke mana-mana (kepikiran hal lain). Ternyata, hal ini wajar terjadi, karena mendengarkan ternyata bukan sekadar mendengar. Mendengarkan (listening) adalah sebuah keterampilan yang membutuhkan kesadaran, fokus, dan niat untuk memahami.   Saya menyadari bahwa di era komunikasi yang serba cepat seperti sekarang, listening skills menjadi salah satu kemampuan paling penting, baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun interaksi sosial. Sayangnya, banyak orang lebih fokus pada kemampuan berbicara (speaking skills) dan melupakan bahwa komunikasi yang efektif tidak akan terjadi tanpa kemampuan mendengarkan den...