Minggu, 31 Maret 2013

BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK


Quote ada yang bilang seperti ini: “The Only Thing That Is Constant Is Change” by Heraclitus, terjemahan kasarnya: sesuatu yang selalu tetap adalah perubahan.  Maksudnya: perubahan itu pasti ada dan terus menerus ada.

Lalu, apakah kita siap dengan perubahan-perubahan yang ada? Apakah kita siap menghadapi perubahan ini? Apakah kita ikut berubah untuk setiap perubahan?

Setiap hari, diri kita harus selalu berubah, menjadi lebih baik harusnya – menurut saya. Dan pada akhirnya, semua perubahan ini, hanya kita sendiri yang bisa menilai dan hanya kita sendiri yang akan merasakannya.
Nah, lalu? Saya menuliskan ini karena saya merasa, bahwa saya sendiri harus berubah, terus menerus menjadi lebih baik. Yang saya rasakan adalah sangat SUSAH!! Kenapa susah? Ya, kalau sudah enak dengan keadaan sekarang, sangat susah sekali untuk berubah karena artinya harus melakukan sesuai yang berbeda lagi.

Apa saja sih yang menjadi bagian dari perubahan ini? Menurut saya, hal-hal utama adalah: pola hidup, sikap, komunikasi, perasaan dan akhirnya profesionalisme. Berikut, hal-hal yang menurut saya harus selalu dirubah untuk menjadi lebih baik:
  • Diri. Lihat tubuh kita, apakah kita merasa sehat? Bugar? Selalu segar setiap hari? Lalu, apakah kegemukan/kekurusan (lihat perhitungan BMI –body mass index)? 
Standard dari tubuh ideal tidak harus six pack, berotot dan indah, kalau bisa begitu pasti lebih bagus, tetapi, tubuh ideal adalah tubuh dengan body mass index yang pas (tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk), lalu kita merasakan diri kita selalu bugar setiap hari. Itu sudah cukup.
  • Sikap. Bagaimana sikap kita dalam menghargai diri sendiri? Apakah kita mempunyai sikap positif yang membuat hati dan pikiran selalu positif? Membuat orang-orang disekitar merasa positif? Apakah kita sudah mempelajari bagaimana bersikap yang baik kepada orang yang lebih tua? Kepada rekan kerja? Kepada wanita?
Standard dari sikap positif, kita bisa merasakannya sendiri, jika kita merasa kita mempunyai aura positif, selalu percaya diri dan bisa selalu tersenyum kepada orang lain. Itu sudah bisa dibilang bahwa kita mempunyai sikap positif . khusus untuk sikap kepada wanita (berlaku kepada semua wanita di dunia), membukakan pintu dan mendahulukan adalah sikap yang harus dilakukan (Gentlemen‘s style), mungkin saya kebanyakan nonton film kali ya, tetapi hal ini adalah sikap yang bagus banget…..
  • Perasaan.  Apa yang kita rasakan setiap bangun dipagi hari? Senang? Sedih? Bahagia? Sendirian?
Jika kita merasakan hal-hal baik setiap hari, bagus banget….lalu? apakah setiap hari bisa merasakan itu? Sebagai manusia, adalah lumrah jika ada hari-hari tertentu kita bangun  dengan perasaan bête, sedih, sendirian (lonely)
Tentunya, bagaimana kita menyikapi diri kita untuk membangkitkan perasaan senang. Kita bisa memikirkan hal-hal yang bagus. Jika sebel dengan pasangan, pikirkan hal-hal yang indah yang pernah dialami. Dan lain-lain
  • Komunikasi .  Apakah kita sudah mengkomunikasikan semua hal? Jika kesal kepada seseorang, /pada anak/pasangan, apakah sudah di beritahu kepada mereka? Eits, ini bukan marah-marah dengan nada tinggi dan kata-kata kasar yah. Maksudnya, apakah sudah dibicarakan secara baik-baik, bahwa kita kesal kepada mereka karena apa? Lalu, kita mengharapkan apa dari mereka sehingga dikemudian hari tidak kesal lagi.
Ingat, kita harus membicarakan hal ini kepada orang tersebut! Banyak orang berpikir, mereka diam, menunjukan sikap kesal, dengan berharap orang lain tahu apa yang dipikirkan, well, manusia itu bukan pembaca pikiran!! Kita tidak akan tahu mengenai perasaan masing masing jika tidak diceritakan.
  • Profesional. Kalau masalah professional, mungkin saya tidak jelaskan banyak, pastinya kita semua menyadari, dengan goals, job description yang ada, apa sih yang harus di perbaiki.
Jika sudah melihat dan melakukan evaluasi, pertanyaan selanjutnya, apakah kita mau berubah menjadi lebih baik? Bagaimana melakukannya? Untuk hal-hal yang terkait kepada orang lain, kapan kita akan berubah? Kepada siapa yang utama? 

Setelah mengetahui hal-hal diatas, pastinya kita akan merasa begini (saya yang pasti merasakannya…)….OH MANNN…..I HAVE NOT DONE ANY CHANGE YET!

Well, itu normal, yang harus kita lakukan setelah membaca dan merasakannya adalah LAKUKAN! Rencanakan kapan untuk melakukannya, kepada siapa dan segera dimulai.

Lalu, segera BERSYUKUR, kita harus bersyukur, apa saja bentuk syukurnya? Saya tuliskan terpisah di artikel saya berikut.

Salam,
Created: 31 Mar 13




Sabtu, 23 Maret 2013

Profesionalisme



Pagi ini, saya baru membaca tulisan dari motivator mengenai bagaimana seharusnya dokter secara professional bersikap. Ternyata berat yah, jadi dokter itu punya janji yang harus dipenuhi karena sudah berjanji atas nama TUHAN Yang Maha Esa.

Nah, saya dengan profesi sebagai konsultan tertarik untuk menuliskan versi saya sendiri mengenai profesionalisme. Yang saya tuliskan ini sih, lebih secara umum berdasarkan yang saat ini saya lakukan dan menurut saya perlu untuk diinformasikan ke teman-teman.

Dari kamus (http://kamusbahasaindonesia.org)  adalah: mutu, kualitas, dan tindak tanduk yg merupakan ciri suatu profesi atau orang yg professional.

Dari penjelasan menurut kamus diatas, kalau bisa saya tuliskan versi saya, professional itu merupakan kumpulan dari beberapa hal dibawah ini. Ini menurut saya loh, karena saya sudah cukup lama bekerja dan bertemu banyak orang. Saya sangat menyukai dan mengharapkan semua orang bisa bersikap seperti ini:

1.     Sikap professional
Bersikap professional ini yang utama adalah memenuhi komitmen yang telah diucapkan atau dituliskan, contoh:
  • Tepat waktu. Hehe, ini adalah syarat ideal yang sangat susah diikuti oleh semua pihak. Dan saya saja masih labil untuk menerapkannya. Bagaimana bisa? Saat saya on time, rekan-rekan dan client tidak on time, saya berturut-turut datang on time, client nya telat teruss….(cape deh)
Tetapi seharusnya, hal tersebut tidak merubah sikap kita, karena ini menyangkut kredibilitas kita. Bagaimana kita bisa bertahan untuk selalu on time. Jika kita bisa menunjukkan bahwa kita adalah orang yang persisten, maka para client atau rekan akan lebih menghargai kita. Kalaupun tidak, kita bisa menghargai diri sendiri atau bangga dengan diri sendiri karena selalu on time.

  • Berpakaian rapih. Well, ini sih wajib yah, minimal, memakai kemeja dan dimasukkan kedalam celana panjang. Hmm, saya mungkin old-fashion, tetapi ini adalah salah satu hal yang membuat kita diperhatikan dan di hargai oleh orang lain. Mungkin akan berbeda jika lingkungannya memang mempunyai dress code yang berbeda, maka model yang berbeda bisa diterapkan. 
Hanya saja, kemeja tangan panjang yang rapih (tidak kusut) dan dimasukkan ke celana panjang sudah cukup rapih.
  
  • Saat rapat tidak bermain gadget. Nah, ini nih, sekarang sepertinya jadi umum banget, tetapi sebenarnya tidak benar! Saya sih protes, tetapi masih dalam bentuk berusaha untuk tidak melihat ke hp (blackberry) saya saat meeting. Yang bagus sih, dari pemimpin rapat harus menjelaskan, meeting selama 1 jam dan dalam waktu 30 menit pertama bisa break untuk melihat gadget. Tetapi saat ini, hal seperti itu sangat jarang sekali diterapkan.
Menurut saya, sebaiknya ini terus diterapkan untuk menunjukkan betapa pentingnya setiap peserta rapat untuk focus pada meeting.

2.     Sikap yang baik positif dan menghargai orang lain
Bersikap lagi? Yah benar, menurut saya, tingkat profesionalisme dari seseorang itu dilihat dari sikapnya. Bahkan saya bisa bilang bahwa tingkat kedewasaan seseorang itu dilihat dari sikapnya? Maksudnya? Iya sikap dia menghadapi masalah, berbicara dengan orang lain, sikap dia dipuji oleh orang lain. Ini rinciannya:
  • Sikap saat mendapatkan kritik/masalah, tidak memenuhi target. Kesal? Marah? Bête? Yah, sah-sah saja sih untuk bersikap seperti itu. Tetapi apakah menyelesaikan masalah?
Bersikap selalu positif memberikan nilai tambah, kepada diri kita sendiri pastinya. Lalu, akan memberikan serta membentuk aura dan lingkungan yang positif dengan rekan kerja.
  • Untuk kritik: kita bisa bersikap santai dengan menjawab: well, nobody perfect, I’ll improve myself next time. Atau jika kritik yang cukup sadis, sebaiknya dengan senyum dan diam, lalu menjelaskan apa yang sudah kita lakukan. Sikap marah atau tidak terima dengan kritik bisa menjadi penilaian dari orang lain bahwa kita belum cukup dewasa dalam menerima kritik.
Jika juga harus bisa bersikap untuk men stop pembicaraan jika kita rasa pembicaraan tersebut menyudutkan kita.
  • ·         Untuk sikap saat tidak mencapai target: bisa dengan santai well: we won and we lost sometime. Sebaiknya kita juga sudah menunjukkan bahwa kita mempunyai barisan client (pipeline) yang sangat banyak sehingga kita bisa memperlihatkan bahwa kita sudah cukup keras berusaha.
 
  • Sikap saat menanyakan sesuatu. Yah, ini sih hanya sikap sopan yang kadang-kadang kita lupa (biasanya atasan kepada bawahan). Bahkan lebih parah, TIDAK BERANI BERTANYA, yang penting adalah sikap. Jika ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh atasan, ya tanyakan saja sama atasan. Tentunya, tunjukkan bahwa kita sudah menanyakan ke banyak pihak mengenai hal ini dan tidak ada yang tahu.
  • Menjelaskan hal-hal negative secara objective. Well, sederhananya, talk more about our work rather than people. Kalaupun harus membicarakan kejelekan orang lain, sebaiknya jangan. Atau jika terpaksa, dalam bentuk 1-on-1 dengan atasan langsung.
 3.     Memberikan yang terbaik
Maksudnya? Memangnya dengan datang kerja tepat waktu dan pulang lembur tidak cukup? Well, mungkin cukup mungkin tidak. Karena memberikan terbaik itu lebih sekadar melebihkan waktu kerja saja. Menurut saya sih seperti ini:
  • Memberikan solusi alternative. Dalam bekerja, pastinya kita harus memberikan solusi improvement (perbaikan) dari pekerjaan kita. Kita bisa jelaskan dan usulkan cara lain yang lebih baik yang sebaiknya dilakukan. Nah, hal ini bisa di presentasikan atau dituliskan dalam bentuk laporan kepada atasan kita.
  • Menanyakan kepada ahlinya. Siapa ahlinya? Ingat, kita bukan superman yang tahu segalanya, pasti ada rekan-rekan kita yang lebih mengerti untuk hal-hal tertentu seperti HR, Engineering, Hospitality dan lain-lain. Nah, ajak mereka berdiskusi dan mencari ide mengenai apa saja yang bisa  kita lakukan untuk menjadi lebih baik. Kebanyakan orang sih suka di ajak berdiskusi. Yang perlu di ingat, kita harus membicarakan nama orang yang memberikan ide ini jika kita berbicara di muka umum atau kepada atasan. Tidak perlu takut mereka akan menjadi lebih baik atau dipromosi, karena, dengan kita membicarakan subject tertentu, kita juga akan dinilai baik oleh atasan kita
  • Mempelajari secara keseluruhan. Nah, ini yang susah, kadang-kadang kita terlalu focus pada problem sehingga kita tidak melihat masalah secara keseluruhan (istilahnya: see the big picture…)
Yang suka dibilang sih: stop sejenak, berfikir dan kita berusaha melihat masalah tersebut dari sisi yang lebih tinggi. Misalnya: masalah absensi, jika 20% karyawan terlambat, mungkin perlu diperhatikan bahwa jam kerja teratur bisa menjadi masalahnya, bagaimana jika menjadi flexi hour? Bagaimana dengan work from home? Dan lain sebagainya

4.     Selalu belajar
Ya ampun, sudah bekerja sekian jam per hari, tetapi masih harus belajar? Hihihi, sama sih, saya juga berpikir seperti itu. Tetapi, jaman sekarang ini, banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan dari media termasuk internet dan juga buku-buku. Dan belajar itu juga bisa dilakukan dengan cara berdiskusi, rapat inovasi kerja serta brainstorming meeting (saya tidak cocok dengan terjemahan brainstorming – curah pendapat). Jadinya? Selalu belajar ini maksudnya apa? Yaitu:
  • Mempelajari dari berbagai sumber
  • Mengikuti website atau mailing list untuk bidang yang ditekuni saat ini
  • Memberikan ilmu atau menceritakan ilmu yang telah dipelajari kepada team
Wuih, banyak juga yah….tentunya pasti banyak kombinasi lainnya dan saya OK saja. Karena setiap orang pasti mempunyai informasi yang menurut mereka lebih baik.

Semangat selalu!

Sabtu, 16 Maret 2013

Karachi, Pakistan



Saya terinspirasi sama mba trinity nih (http://naked-traveler.com/) dengan buku dan blog nya. Wuih keren banget isinya dan sangat inspiratif. Beliau (eh….kok beliau….hmmm….apa ya) nama aja deh ya…mba trinity ini mantab banget….jalan-jalan ala backpackers hampir keseluruh dunia. Termasuk Maldives yang keren banget (kata mba trinity dan menurut banyak website serta terlihat dari foto-foto tentunya)

Nah, saya jadi inget pernah perjalanan dinas (project management) ke Karachi, Pakistan di tahun 2008. Saya dikirim karena harus mengawasi pekerjaan renovasi kantor dan saya diutus sebagai perwakilan regional South East Asia (cie…) untuk pengawasan ini. Banyak hal menarik yang mau saya share disini yaitu:

1.       Budaya
Dari cerita kolega saya, orang Pakistan sangat bangga dengan “Pakistan” nya dan sangat tidak rela untuk disebut orang India. Walaupun mereka berbatasan dengan india dan sama-sama pernah dijajah inggris, tetapi mereka tidak mau disamakan dengan orang India.
Lalu, keagaamannya sangat kuat. Pada saat bulan Ramadhan, mereka akan sedikit bekerja di kantor karena banyak melakukan ibadah dirumah.  Yang pasti, mereka sangat menghormati Indonesia karena Indonesia adalah Negara dengan muslim terbesar didunia.
Saya juga diutus karena secara saya Islam dan diharapkan bisa berbaur dengan mereka. Oiya, mereka juga sangat membenci Amerika dan kebetulan juga mereka menganggap tim regional Singapore itu sama saja dengan Amerika.
Lalu, bahasa mereka itu bahasa Urdu, campuran Persia, arab, india dan kadang-kadang bahasa Inggris juga ada. Tetapi hebatnya, hampir semua bisa bahasa Inggris, yah mungkin karena mereka pernah dijajah inggris yah.

2.       Orang Pakistan
Kalau saya bilang sih, cara bicara orang Pakistan itu hampir sama seperti orang Medan, keras dan tidak mau kalah. Mereka suka sekali membahas hal-hal yang tidak perlu dan sebenarnya bisa saja diselesaikan jika salah satu mau meng-iyakan. Saya pernah temui sekelompok rekan kerja (4-6 orang) berkumpul hall gedung berdiskusi dengan serunya dan ternyata hanya membahas mengenai ucapan salah satu manager yang menurut mereka tidak pantas.
Orang Pakistan ini juga keras, seenaknya dan susah diatur. Susah diatur ini khususnya berlaku untuk para kontraktor yang karena sesuatu dan lain hal perusahaan saya (dulu) tidak menerapkan system penalty dalam  project. Jadi delay nya suangaat lama (hamper 2 bulan).  

3.       Kota.
Akhirnya, mengenai kota Karachi sendiri, Karachi adalah kota terbesar di Pakistan, pelabuhan utama, pusat industry dan pusat financial.  Secara sejarah, sebelumnya Karachi adalah ibu kota dari Pakistan sampai dibangun Islamabad dan ibukota dipindahkan ke Isamabad sebagai inisiatif pemerintah Pakistan untuk mengembangkan pembangunan ekonomi ke kota selain Karachi dan menghindari terjadinya sentralisasi ekonomi di Karachi.
Secara cuaca dan lingkungan, pada saat saya disana di bulan April 2008, adalah musim panas dan puaaanassss banget disana disiang hari. Dominasi dari daerah gurun yang pasti ditemui begitu keluar dari kota dan memasuki jalan tol mereka. Sangat berdebu dan cepet bikin keringetan.
Pembangunan di Karachi ini sangat pesat sekali, banyak jalan toll dan gedung bertingkat yang masih dalam proses pembangunan.

Lalu, mereka juga ada pantai nya, Clifton beach. Nah, serunya, di Karachi, para keluarga itu jalan-jalan nya dimalam hari (malam dari jam 9 – 12 malam!) dan ini mengajak keluarganya dari anak bayi sampai kakek-nenek. Seru banget loh melihat betapa aktifnya kota Karachi ini di malam hari.

Walaupun begitu, kalau saya bisa bilang, secara keseluruhan Karachi (yang katanya adalah kota yang paling modern di Pakistan) masih seperti Jakarta ditahun 1990an deh…
4.       Makanan
Fast foodnya juga banyak kok, mc donalds & KFC ada disini, bahkan saya bilang ayam crispy nya KFC ini DA BEST yang pernah saya rasakan karena pedasnya mantabs.
Lalu mereka masih mengikuti cara tradisional Inggris yang ada hi-tea (harusnya sih minum the n biscuit aja) tapi mereka itu mengajak makan BESAR yang benar-benar makan all-you-can-eat yang bisa bikin perut penuh banget.
Makanannya, saya sih sudah tidak ingat namanya, yang pasti mereka punya sajian otak seperti makanan padang…hmm…yummy
Lalu minuman khasnya, yang enak itu, Lassi, sejenis yoghurt yang rasanya seger bangett dan menurut mereka, setelah makan makanan khas Pakistan yang spicy, dengan minum lassi, dijamin perut jadi enak dan buang air lancarrr… dan ini juga sudah saya coba n bener looh….

Yang masih terkenang sampai saat ini, bahwa mereka menganggap saya keluarga disana, saya dikenalkan ke keluarga mereka, di ajak makan malam disana bahkan dikarenakan bersamaan dengan pernikahan salah satu rekan, saya juga di undang.  Lalu, dengan cara salam ala Arab mereka yang memeluk dan mencium pipi 3x (cowo-cowo yaa)….itu berasa di filim-film dan memang seperti itu adanya.
Note:
Beberapa informasi diatas di google di Wikipedia yah pastinya. Dan saya akan buat English version nya untuk didedikasikan dan biar bisa dibaca oleh rekan-rekan saya di sana….

Selasa, 12 Maret 2013

BERGERAK MAJU

Setelah beberapa bulan berlatih berenang dan lari, akhirnya saya mencoba untuk berlatih duathlon, berenang dan bersepeda. Hari sabtu saya lari 5km dan hari minggunya saya berenang 1000 m ditambah bersepeda (dapatnya 17 km). Wow! Ternyata saya bisa lohhhh…kagum sendiri sama diri ini dan senang karena hasil latihan ada hasilnya. 

Saya senang dengan quote “PUSH TO YOUR LIMIT” dan yang saat ini, yang sangat bisa terhubung dengan itu adalah kondisi fisik dengan mengikuti olahraga triathlon. Bisa juga dengan lari long distance (10km, 21km atau 42km – full marathon) apapun itu, yang penting saya mencoba untuk mengetahui “batas” diri saya.
Pertanyaannya sih, apakah ada batasnya? Menurut saya, BATASNYA HANYA LANGIT. Umur dan fisik bukan batasan. Kalau bilang umur sudah ketuaan/kemudaan? Banyak yang masih usia belasan sudah mulai lari, bahkan ada marathoner yang berusia diatas 70 tahun! Lalu, fisik, “kan saya bukan atlit”, “sudah telat nih” ada juga yang mulai diusia 40 tahun dan bisa berlari marathon sampai usia lanjut.
Intinya sih, kemauan. Jika benar-benar mau, maka kita harus cari cara yang benar untuk mencapainya. Untuk lari, jika tidak pernah lari, sebaiknya dimulai dengan lari 5 menit setiap hari, jika sudah biasa, ditambah menjadi 10 menit dan seterusnya.

Untuk triathlon ini, saya sendiri kagum dengan fisik saya (narsis dikit ahh), latihan berenang itu berat dan bosan ternyata, karena belum ada music device yang bisa dipakai didalam air….hehe…soale, berenang 1000 – 1200 meter itu kan bolak-balik 20-24 kali kolam renang ukuran Olympic. Harus niat banget deh.
Lalu, setelah kemauan, kita harus memastikan bahwa kita bergerak maju, dengan membuat target-target baru yang kita yakin bisa dicapai. Contohnya, setelah saya bisa berenang 1000 meter, maka saya menambah menjadi 1200 meter. Ya capek sih, dan juga harus niat banget, karena kadang-kadang saya sudah merasa 1000 meter itu cukup untuk latihan saya, tetapi harus memaksa diri untuk menambahkan target.

Akhirnya, saya suka ini, kita harus “BERTAHAN” untuk olahraga lari adalah olahraga individual dan saya bisa bertahan sampai finish line. Dengan mengikuti triathlon ini (masih masa latihan yaa…) saya  menggunakan konsep yang sama, BERTAHAN untuk maju terus mencapai garis finish.

Garis finish adalah tujuan akhir saya nanti, saya berlatih hari ini untuk nanti memperkuat diri saya sehingga saya bisa mencapai garis finish. Saya bertahan untuk selalu berlatih, membuat target-target baru dalam latihan adalah bagian dari rencana saya untuk mencapai garis finish.

Oiya, saya juga mencoba menerapkan hal-hal terkait dengan olahraga ini dalam dunia kerja, sebagai professional saya mencoba membuatkan target-target yang bisa saya capai, termasuk juga rencana saya untuk career saya.
Note: Ya, saya sih sakit flu berat setelah selesa lari 5km dilanjutkan berenang & sepedaan itu karena kecapean dan anak-anak pada flu, sukses deh kena flu…. 
Created: 12Mar13

🌱 3 Pilar Mentorship yang Membentuk Pemimpin Generasi Berikutnya

Harus diakui, kalau ada kepuasan yang berbeda ketika saya melihat seseorang yang pernah saya mentori berhasil memimpin timnya sendir...