Senin, 14 Mei 2018

Menguatkan Diri


Wew, saya mau menuliskan mengenai bagaimana saya menguatkan diri saya. Tentunya perlu diawali dengan menguatkan dari apa? Nah, untuk menuliskan hal-hal yang melemahkan saya ini pun, ternyata saya masih dibatasi oleh ketakutan atas persepsi yang mungkin ada dari yang membacanya.

Ya, akhirnya, karena ini mengenai saya, maka berikut hal-hal yang melemahkan saya:
Kesal karena saya tidak mencapai goal-goal saya; menabung, menurunkan berat, kerja produktif dan mendapatkan tambahan income.

  • Lelah dengan perasaan negatif yang saya rasakan; tekanan dari keluarga, dijauhi keluarga dan perasaan salah karena menganggap keluarga adalah pelarian jika bermasalah.
  • Kecewa dengan kualitas kerja secara profesional, karena saya berpikir bahwa saya memiliki kemampuan diri untuk menghasilkan kualitas yang jauh lebih baik dari saat ini.
  • Yang dituliskan itu adalah hasil meringkas setelah berpikir hampir satu minggu. Selanjutnya, apa yang saya lakukan untuk menguatkan diri. Nah! Menguatkan diri ini sangat penting buat saya!

Jadi yang saya lakukan adalah:

  1. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setidaknya, saya diberikan kesempatan untuk hidup di hari ini, memiliki pekerjaan yang bisa saya kembangkan dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri saya.
  2. Mengingat Pencapaian Masa Lalu. Saya mengingat apa saja pencapaian yang pernah saya alami. Saya pernah berhasil menabung cukup banyak, saya pernah mencapai berat badan yang saya inginkan, saya pernah dikondisi terbaik dan dipromosi karena pencapaian saya.
  3. Setidaknya, kalau saya pernah bisa, saya akan bisa mencapai hal-hal itu kembali,
  4. Membaca Buku. Buku Get Smart! Brian Tracy dan Cara Cepat Melatih Kebiasaan Positif Sehari-hari dari Marc Reklau menjadi pedoman saya saat ini. Masih ada buku-buku lain, tetapi saya terinspirasi dengan kata-kata, bahwa apa yang dibaca perlu dilakukan. Hal ini yang sedang saya usahakan.
  5. Mendekatkan diri dengan pasangan dan anak-anak. Saya beruntung sekali memiliki pasangan yang selalu bisa memberikan pandangan yang berbeda. Saya melihat banyak hal-hal positif yang ternyata saya tidak pikirkan sebelumnya. Saya sangat bangga dengan anak-anak saya yang berhasil beradaptasi dan berkembang dengan baik karena saya selalu mengkomunikasikan hal-hal baik kepada mereka. Bagaimana dengan tekanan dari keluarga dan dijauhi oleh keluarga? Ya saya hanya menyederhanakan pikiran saya saja; mungkin mereka bukan keluarga saya sebenarnya. Karena buat saya; keluarga adalah orang-orang yang sangat perhatian dan selalu memberikan dukungan kepada saya.

Pertanyaan selanjutanya, apakah saya menjadi lebih kuat? Ya, masih proses. Yang pasti, saya membuat goal-goal kecil seperti selalu lari pagi setiap hari. Ya, SETIAP HARI, saya mengusahakan keluar rumah dan lari, hari ini sudah menjadi hari kesepuluh dari 100 hari lari tanpa henti yang saya rencanakan.

Saya yakin, pasti saya akan menghadapi tantangan baru dimasa depan. Dan saya yakin juga bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar bagi saya, selama saya masih diberikan kesempatah hidup di hari esok.

Pasti Bermanfaat! Chase Excellence, Always!

Salam,
Jufiandi

Selasa, 02 Januari 2018

Bagaimana saya membesarkan anak

Banyak hal-hal yang saya alami yang membuat saya berniat untuk memperbaiki cara saya mendidik anak saya agar menjadi pribadi yang baik, berbudi dan mandiri.
Hal-hal utama adalah:
Memastikan mereka menjadi pribadi yang sama dengan saya yaitu; berbahagia dengan memikirkan:
  • Saat membuka mata hari ini, artinya kita masih diberikan kesempatan untuk hidup. Bersyukurlah!
  • Yakinkan diri sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
  • Tersenyum kepada siapa saja yang anda temui hari ini.
  • Bersikap baik kepada orang lain dan menyapa terlebih dulu
  • Membuat target-target kecil yang mudah tercapai dihari itu.
  • Berpikir positif.
  • Tidak memperdulikan pendapat orang lain. Kita yang berhak memikirkan dan menentukan apakah pendapat orang lain tersebut berguna untuk diri kita.
  • Menyadari bahwa setiap orang memiliki perangnya masing-masing
  • Membaca buku pengembangan diri, biografi tokoh dan/atau artikel.
  • Yakin bahwa Allah SWT mempunyai penilaian yang berbeda, yang tidak terbayangkan oleh manusia.
(*10 hal diatas sudah dituliskan sebelumnya, dan menurut saya, hal-hal tersebut adalah sangat baik sekali).

Lalu, saya juga selalu mengingatkan kepada mereka bahwa;
  1. Saya sebagai orang tua adalah manusia biasa yang bisa salah, jika salah agar diingatkan dan dikomunikasikan.
  2. Setiap keputusan yang mereka ambil, itu adalah menjadi 100% tanggung jawab mereka. Setiap tindakan selalu ada konsekuensinya.
  3. Beribadah adalah penting, tetapi lebih penting menjadi orang yang baik dan berguna bagi orang lain.
  4. Olah raga dan bela diri adalah wajib untuk dipelajari.
  5. Bercita-citalah setinggi langit, bermimpi besar, lalu dipikirkan dengan matang bagaimana untuk mencapainya.

Dengan anak-anak remaja saya ini, tantangan terbesar adalah memposisikan saya sebagai teman mereka yang dapat bercanda, dimarahi dan didengarkan. Juga, saya perlu untuk menyampaikan kekesalan dan kemarahan saya dalam bentuk penyampaian yang lembut, kalem dan terbuka untuk menerima pendapat dari mereka.

Buat saya, terpenting adalah menjadi orang tua yang selalu santai dan dapat menerima apapun keputusan dari mereka. Jika salah, cukup mengingatkan konsekuensi yang mungkin terjadi.

Saya sangat bersyukur bisa mendampingi mereka merayakan ulang tahun dengan teman-teman mereka, bertemu dengan teman-teman mereka secara santai tanpa ada batasan.

Tahun 2017, saya merasakan hal-hal luar biasa dalam proses pengembangan diri saya, tahun 2018 ini, saya akan selalu belajar, belajar dan belajar untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi orang lain.

Chase Excellence, Always!



🌱 3 Pilar Mentorship yang Membentuk Pemimpin Generasi Berikutnya

Harus diakui, kalau ada kepuasan yang berbeda ketika saya melihat seseorang yang pernah saya mentori berhasil memimpin timnya sendir...