Sabtu, 29 November 2025

3 Strategi Menjaga Kinerja dan Mental di Bawah Atasan yang Suka Menyalahkan

Ini adalah materi yang menarik karena umumnya para atasan/manager memiliki sikap seperti ini; blaming mindset. Tulisan ini menjadi pembelajaran juga untuk saya agar menjadi lebih baik. 

 

Dalam dunia kerja, kita tidak bisa memilih atasan kita, jika beruntung, kita akan mendapatkan manager yang benar-benar mengerti apa yang dikerjakan dan mau meluangkan waktu untuk mengembangkan team serta menjadi kita selaku team/bawahan sebagai partner kerja. Jika kita mendapatkan manager yang bermasalah, maka kita perlu memiliki strategi dalam menghadapinya. Salah satunya jika kita terpaksa bekerja dengan atasan yang memiliki blaming mindset—yang selalu mencari kambing hitam saat ada masalah—bisa sangat melelahkan. Lingkungan kerja menjadi toxic, penuh kecemasan, dan kreativitas terhambat. Kita mungkin merasa tidak berdaya, tetapi ada cara strategis untuk menghadapinya tanpa mengorbankan posisi atau kesehatan mental Anda.

 

Ketika manager fokus pada menyalahkan individu daripada menyelesaikan masalah, dampaknya langsung terasa:

- Stres dan Kecemasan: kita dan rekan kerja terus waspada, takut menjadi sasaran kesalahan berikutnya.

- Komunikasi Tertutup: Tidak ada yang berani mengungkapkan masalah atau ide baru karena takut disalahkan jika gagal.

- Kinerja Menurun: Energi yang seharusnya untuk bekerja produktif teralihkan untuk melindungi diri sendiri (CYA - Cover Your Ass).

 

Menghadapi atasan seperti ini memerlukan pendekatan yang cerdas dan diplomatis. Fokusnya adalah mengelola persepsi dan komunikasi kita. Berikut 3 strategi untuk menghadapinya: 


1. Dokumentasi adalah Senjata Kita: Jadilah proaktif dalam mendokumentasikan pekerjaan. Kirimkan email rangkuman setelah rapat, catat keputusan, dan simpan bukti persetujuan. Ketika masalah muncul, Kita memiliki data faktual, bukan sekadar opini. Ini mengubah dinamika dari debat "siapa yang salah" menjadi diskusi berbasis fakta. Dokumentasi termasuk dengan membuatkan email “negative confirmation” untuk menuliskan informasi yang telah disetujui secara verbal dalam bentuk email. Dokumen ini perlu disimpan dan digunakan sebagai data terkait persetujuan secara verbal tersebut.


2. Teknik Reframing dengan "Solusi Cepat": Alih-alih terjebak dalam pembahasan tentang kesalahan, segera alihkan percakapan ke tindakan perbaikan. Katakan, "Saya memahami ada masalah di sini. Untuk mengatasi dampaknya segera, saya sudah menyiapkan tiga langkah perbaikan. Boleh saya jelaskan?" Pendekatan ini menggeser fokus dari masa lalu (menyalahkan) ke masa depan (memperbaiki).


3. Ajukan Opsi, Bukan Pertanyaan: Daripada meminta arahan yang mungkin berujung pada kesalahan baru, presentasikan pilihan solusi yang sudah Kita siapkan. Misalnya, "Untuk mengatasi kendala ini, saya identifikasi dua opsi: A yang lebih cepat tetapi butuh persetujuan tambahan, atau B yang lebih mandiri tetapi butuh waktu lebih. Saya merekomendasikan opsi B karena alasan X dan Y." Ini menunjukkan inisiatif dan meminimalkan ruang untuk penyalahan.

 

Menghadapi manager yang suka menyalahkan memang penuh tantangan. Kunci utamanya adalah:

· Lindungi diri dengan dokumentasi yang solid dan komunikasi tertulis.

· Kendalikan narasi dengan langsung menawarkan solusi praktis.

· Ambil inisiatif dengan menyajikan opsi-opsi tindakan yang jelas.

Dengan pendekatan ini, kita memposisikan diri sebagai problem solver, bukan sumber masalah, sekaligus mengurangi peluang untuk menjadi target penyalahan.

 

Tentunya, meyakinkan secara sadar, bahwa kita sudah melakukan yang terbaik dalam bekerja, dan kondisi manager ini adalah dalam dunia professional kita, TIDAK untuk dimasukkan kedalam hati, pikiran, bahkan mengganggu perasaan, karena kita tetap memerlukan kesehatan fisik dan mental dalam bekerja.  Saya pribadi akan berusaha untuk menyaring informasi dari manager toxic ini agar tidak menjadi “manager toxic lainnya” dengan melakukan hal yang sama kepada team saya.
 

Semoga Bermanfaat  


Jumat, 07 November 2025

2 Cara dari The Psychology of Habit agar Hidup menjadi lebih Hidup

Buku The psychology of habit yang ditulis oleh David. J. Lieberman berisi mengenai kebiasaan-kebiasaan negative yang dialami oleh manusia dan bagaimana memperbaikinya.

Salah satu kebiasaan yang menarik perhatian saya adalah: jika sering memikirkan kematian. Menariknya, saya pernah memikirkan hal ini, tentunya, bukan karena saya ingin mati, tapi karena pikiran itu muncul tiba-tiba saja, saat sendirian, atau bahkan ketika sedang sibuk bekerja.

 

Di buku The Psychology of Habit karya David J. Lieberman, dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik pikiran itu. Ternyata, justru bukan tentang kematian, melainkan tentang bagaimana cara hidup dengan lebih sadar.

Pikiran tentang kematian bukan ancaman, tapi sinyal. Menurut Lieberman, kebiasaan berpikir terbentuk dari bawah sadar kita. Pikiran yang berulang-ulang adalah bentuk komunikasi dari diri sendiri.

Ketika otak terus memunculkan topik kematian, itu bukan tanda ingin menyerah, melainkan tanda bahwa ada bagian diri yang kehilangan arah atau makna.

Kematian dalam konteks psikologi kebiasaan melambangkan “akhir”, dan pikiran tentang itu muncul ketika kita merasa stagnan atau kehilangan kendali hidup.

Bisa diartikan; Pikiran tentang kematian bukan pertanda kita ingin mati, tapi pertanda kita belum benar-benar hidup.

Otak tidak bisa disuruh berhenti, tapi bisa diarahkan. Lieberman menjelaskan bahwa otak manusia tidak bisa “diam”. Kita tidak bisa memaksa diri untuk tidak memikirkan sesuatu. Yang bisa kita lakukan adalah mengganti arah pikirannya. Artinya, bukan melawan pikiran tentang kematian, tapi memberi otak “makanan” baru: fokus, makna, dan kebiasaan positif.

 

Dari Lieberman, ada dua kebiasaan sederhana yang bisa mengubah cara kerja otak dan mengurangi pikiran negatif yang berulang.


Kebiasaan pertama: tetapkan tujuan dan selesaikan. Di setiap pagi, agar memulai dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa satu hal yang ingin aku selesaikan hari ini?” Buatkan tujuan yang bisa diselesaikan hari ini. Tujuan itu bisa kecil, menyelesaikan pekerjaan penting, berolahraga, atau menuliskan blog.

Dengan kebiasaan ini, jika kita mulai menyelesaikan satu hal, maka kita akan merasakan kemajuan kecil. Otak mendapatkan sinyal bahwa hidupku bergerak maju. Lieberman menyebut ini sebagai “habit of direction”, kebiasaan memberi arah pada energi pikiran. Ketika pikiran punya tujuan, ia tidak punya waktu untuk tersesat pada kecemasan eksistensial.

 


Kebiasaan kedua: menghitung kebaikan sebelum tidur. Setiap malam, sebelum tidur, agar merenung sejenak: “Hal baik apa yang terjadi hari ini?”. Agar menuliskan atau mengingat tiga hal, sekecil apa pun. Misalnya:

Jalan ke kantor sangat lancar dan cuaca yang cerah di hari ini,

Mengetahui bahwa keluarga; istri dan anak-anak dalam keadaan sehat.  

Bangun di pagi hari dalam keadaan sehat.

Kebiasaan sederhana ini menumbuhkan apa yang disebut Lieberman sebagai “habit of gratitude”, kebiasaan bersyukur. Otak mulai fokus pada hal yang berjalan baik, bukan pada hal yang hilang. Hidup lebih bermakna bukan berarti tanpa pikiran negative.

Dengan memulai kebiasaan tersebut, maka akan ada perubahan: 

Hidup yang bermakna bukanlah hidup tanpa pikiran negatif, tapi hidup yang punya arah dan rasa syukur setiap harinya.

Adanya perbedaan saat pikiran tentang kematian masih kadang muncul. Ia tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi pengingat bahwa waktu hidup ini berharga.

Pertanyaan menjadi berubah, dari “bagaimana kalau aku mati?”, menjadi “bagaimana kalau aku benar-benar hidup hari ini?”

Ketika arah dan rasa syukur hadir bersama, hidup terasa lebih utuh dan kematian tak lagi menakutkan.

“Hidup bukan tentang menghindari kematian, tapi tentang menjalani setiap hari dengan penuh kesadaran.”

 

Semoga bermanfaat

🌱 3 Pilar Mentorship yang Membentuk Pemimpin Generasi Berikutnya

Harus diakui, kalau ada kepuasan yang berbeda ketika saya melihat seseorang yang pernah saya mentori berhasil memimpin timnya sendir...