Jumat, 07 November 2025

2 Cara dari The Psychology of Habit agar Hidup menjadi lebih Hidup

Buku The psychology of habit yang ditulis oleh David. J. Lieberman berisi mengenai kebiasaan-kebiasaan negative yang dialami oleh manusia dan bagaimana memperbaikinya.

Salah satu kebiasaan yang menarik perhatian saya adalah: jika sering memikirkan kematian. Menariknya, saya pernah memikirkan hal ini, tentunya, bukan karena saya ingin mati, tapi karena pikiran itu muncul tiba-tiba saja, saat sendirian, atau bahkan ketika sedang sibuk bekerja.

 

Di buku The Psychology of Habit karya David J. Lieberman, dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik pikiran itu. Ternyata, justru bukan tentang kematian, melainkan tentang bagaimana cara hidup dengan lebih sadar.

Pikiran tentang kematian bukan ancaman, tapi sinyal. Menurut Lieberman, kebiasaan berpikir terbentuk dari bawah sadar kita. Pikiran yang berulang-ulang adalah bentuk komunikasi dari diri sendiri.

Ketika otak terus memunculkan topik kematian, itu bukan tanda ingin menyerah, melainkan tanda bahwa ada bagian diri yang kehilangan arah atau makna.

Kematian dalam konteks psikologi kebiasaan melambangkan “akhir”, dan pikiran tentang itu muncul ketika kita merasa stagnan atau kehilangan kendali hidup.

Bisa diartikan; Pikiran tentang kematian bukan pertanda kita ingin mati, tapi pertanda kita belum benar-benar hidup.

Otak tidak bisa disuruh berhenti, tapi bisa diarahkan. Lieberman menjelaskan bahwa otak manusia tidak bisa “diam”. Kita tidak bisa memaksa diri untuk tidak memikirkan sesuatu. Yang bisa kita lakukan adalah mengganti arah pikirannya. Artinya, bukan melawan pikiran tentang kematian, tapi memberi otak “makanan” baru: fokus, makna, dan kebiasaan positif.

 

Dari Lieberman, ada dua kebiasaan sederhana yang bisa mengubah cara kerja otak dan mengurangi pikiran negatif yang berulang.


Kebiasaan pertama: tetapkan tujuan dan selesaikan. Di setiap pagi, agar memulai dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa satu hal yang ingin aku selesaikan hari ini?” Buatkan tujuan yang bisa diselesaikan hari ini. Tujuan itu bisa kecil, menyelesaikan pekerjaan penting, berolahraga, atau menuliskan blog.

Dengan kebiasaan ini, jika kita mulai menyelesaikan satu hal, maka kita akan merasakan kemajuan kecil. Otak mendapatkan sinyal bahwa hidupku bergerak maju. Lieberman menyebut ini sebagai “habit of direction”, kebiasaan memberi arah pada energi pikiran. Ketika pikiran punya tujuan, ia tidak punya waktu untuk tersesat pada kecemasan eksistensial.

 


Kebiasaan kedua: menghitung kebaikan sebelum tidur. Setiap malam, sebelum tidur, agar merenung sejenak: “Hal baik apa yang terjadi hari ini?”. Agar menuliskan atau mengingat tiga hal, sekecil apa pun. Misalnya:

Jalan ke kantor sangat lancar dan cuaca yang cerah di hari ini,

Mengetahui bahwa keluarga; istri dan anak-anak dalam keadaan sehat.  

Bangun di pagi hari dalam keadaan sehat.

Kebiasaan sederhana ini menumbuhkan apa yang disebut Lieberman sebagai “habit of gratitude”, kebiasaan bersyukur. Otak mulai fokus pada hal yang berjalan baik, bukan pada hal yang hilang. Hidup lebih bermakna bukan berarti tanpa pikiran negative.

Dengan memulai kebiasaan tersebut, maka akan ada perubahan: 

Hidup yang bermakna bukanlah hidup tanpa pikiran negatif, tapi hidup yang punya arah dan rasa syukur setiap harinya.

Adanya perbedaan saat pikiran tentang kematian masih kadang muncul. Ia tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi pengingat bahwa waktu hidup ini berharga.

Pertanyaan menjadi berubah, dari “bagaimana kalau aku mati?”, menjadi “bagaimana kalau aku benar-benar hidup hari ini?”

Ketika arah dan rasa syukur hadir bersama, hidup terasa lebih utuh dan kematian tak lagi menakutkan.

“Hidup bukan tentang menghindari kematian, tapi tentang menjalani setiap hari dengan penuh kesadaran.”

 

Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

🌱 3 Pilar Mentorship yang Membentuk Pemimpin Generasi Berikutnya

Harus diakui, kalau ada kepuasan yang berbeda ketika saya melihat seseorang yang pernah saya mentori berhasil memimpin timnya sendir...